Inspiratif, Muslimah Dari Belahan Asia dan Eropa Membagikan Makna Hijab Bagi Mereka

Inspiratif, Muslimah Dari Belahan Asia dan Eropa Membagikan Makna Hijab Bagi Mereka

1771
0
SHARE

Hijab sejatinya merupakan hal yang tak bisa dipisahkan dari diri muslimah. Bagaimana pun juga, sudah sepatutnya seorang muslimah mampu menjaga kehormatan dirinya dari pandangan lelaki.

Meskipun seiring perkembangan fashion, hijab bukan lagi dipandang sekedar penutup kepala, tapi juga bagian dari style. Namun satu hal yang perlu dipahami, bahwa hakikat hijab tidak akan pernah berubah, yakni sebagai penutup aurat bagi muslimah.

Dengan berhijab, apa jadinya jika kamu hidup sebagai mayoritas ataupun minoritas? Perempuan dari berbagai belahan Asia dan Eropa membagikan perasaan mereka tentang Hijab. Yuk simak penuturan mereka.

“Hijab adalah lambang keteguhan prinsip!”, Gesti Saraswati

13
Bagi saya, hijab adalah lambang keteguhan prinsip, bahwa wanita tidak harus dipandang sebagai ‘objek’ keindahan fisik, tapi jauh kedalam apa yang ia pikirkan dan apa yang ia lakukan. Hijab adalah kebanggaan, bahwa seorang muslimah adalah juga cendekiawan. Dan adalah sarana dakwah saya untuk menunjukan wujud dari keindahan akhlak dan pemikiran Islam kepada dunia yang heterogen.

Keramahan orang jepang mempermudah saya menjadi minoritas disini. Beberapa kali saya menemui orang jepang yang bertanya ‘pakai apa dikepalamu? Bagus’, saya jawab ‘ini scarf, saya muslim’. Bahkan satu obaa-san (nenek) tetiba senyum-senyum dan mendekat ‘kirei kirei’ sembari menunjuk hijab saya, ‘cantik cantik’ katanya.

Tapi bukan berarti islamophobia tidak sampai kesini. Dua teman saya, keduanya berhijab, pernah dibentak seorang kakek yang merepet dengan bahasa Jepang dan menunjuk gestur ‘marah’ dan ‘pergi’. Mereka tidak tahu apa yang beliau katakan dengan pasti, namun jelas kakek tersebut menyebut kata ‘Islam’ dan ‘muslim’ beberapa kali.

Menjadi minoritas dengan symbol yang jelas (hijab) memang tantangan. Namun, dengan itu saya selalu mudah diingat orang, baik jepang atau foreigner lain, bahkan saat makan di resto tempura favorit, waitressnya sempat memberi saya bonus tempura karena saya ‘sering datang’. Padahal mungkin hanya karena saya terlalu mencolok jadi dikira selalu datang.

“Hijab bukan sekedar penutup aurat, tetapi juga bentuk ketaatan kepada Allah SWT”, Belia Citra R

15
Bagi saya pribadi, hijab itu bukan sekedar sebagai penutup kepala/aurat saja. Tapi Dia itu sebagai salah satu bentuk ketaatan kita kepada Allah selain shalat, puasa, maupun ibadah-ibadah yang lain.

Dulu sebelum memutuskan untuk memakai hijab, saya sempat membaca surah Ar-rahman. Nah isi dari Surah tersebut memaparkan tentang nikmat yang telah diberikan Allah SWT terhadap umatnya. Oleh sebab itu, selain salah satu perintah Allah, ini merupakan salah satu bentuk terima kasih kepada Allah SWT atas nikmatnya, dan juga salah satu bentuk ketaatan kepada-Nya.

“Hijab merupakan kesadaran dari hati untuk tunduk pada perintah Allah”, Melissa Rahmadini

14
Bagi saya hijab merupakan kesadaran dari hati untuk tunduk pada perintah Allah (kesadaran ubudiyyah), bahwa Allah telah mewajibkan wanita-wanita Islam yang sudah baligh untuk menutup auratnya. Hijab juga sebagai penjagaan atas kaum muslimah dari yang bukan mahramnya, sehingga ia menjadi lebih bermartabat dan terhormat. Terakhir, hijab adalah identitas saya sebagai seorang muslim, terlebih ketika berada di negara minoritas Islam. Lalu adakah yang lebih dapat membedakan saya dengan wanita-wanita non muslim selain hijab yang terus dikenakan?

Dulu, ketika memutuskan merantau untuk durasi yang cukup lama sekitar 3 atau 4 tahun di Eropa, kekhawatiran dan ketakutan paling mendasar yang saya rasakan waktu itu adalah diskriminasi. Akan seperti apa perlakuan mereka pada saya? Terlebih waktu itu saya sudah menamatkan membaca novel 99 cahaya di langit eropa lengkap dengan menonton filmnya berkali-kali. Di film itu banyak sekali kejadian tidak mengenakkan dan kerasisan yang menimpali Hanum khususnya. Inilah yang menjadi momok paling menakutkan bagi saya.

Datang ke eropa pada bulan April 2015, hingga detik ini kekhawatiran dan ketakutan ini perlahan sirna. Tak ada diskriminasi dari warga sekitar. Tak ada yang namanya rasis, semua terasa biasa saja. Pengalaman saya yang hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain meyakinkan diri saya bahwa hidup disini akan baik-baik saja. Saya pernah tinggal di Negara Prancis yang dulu pernah ada isu melarang jilbab dan atribut agama apapun disana. Saya juga pernah tinggal di Negara bekas Eropa timur yang masih banyak komunisnya seperti di kota Freiberg, Jerman. Alhamdulillah, semua menerima saya. Mungkin ada berita yang memuat perlakuan tidak baik oleh warga mayoritas kepada muslim, tapi ternyata ini hanyalah segelintir saja.

Penerimaan mereka terlihat dari bagaimana mereka sangat ramah melayani saya saat berbelanja, ketika berada dalam tempat yang sangat ramai seperti pasar natal atau sepi sekalipun seperti jalan-jalanan di malam hari, ketika berkenalan secara random di bus dan kereta kemudian mengobrol, tersenyum untuk saya, memotret saya, tak sungkan menyapa saya terlebih dahulu, dan berbagai macam betuk penerimaan lainnya.

Menjadi warga minoritas di negara non Islam membuat kami sesama muslimah dari berbagai negara seperi Indonesia, Turki, Arab, Afrika, merasakan ukhuwah islamiyah yang sangat kuat. Maka, ketika kami saling berpapasan di jalan, ucapan salam dan senyum tak pernah ketinggalan, padahal kami tak saling kenal. Tentu saja yang menyatukan hati kami semua adalah Islam itu sendiri.

Disini saya sebagai muslimah juga tidak boleh “baper” mengapa pemerintah disini tidak menyediakan fasilitas untuk muslim. Tapi, dengan mereka mengizinkan saya beribadah dimanapun dan memperlakukan saya dengan baik itu lebih dari cukup dan membuat saya bersyukur. Kita tidak bisa menyamakan Eropa dengan Indonesia yang jelas-jelas mayoritas muslim. Segala kemudahan ibadah untuk muslim difasilitasi dengan baik, berbeda ketika hidup di Negara non Islam, khususnya Eropa, khususnya lagi Belgia (domisili saya saat ini). Di Indonesia masjid sangat banyak sekali, adzan terdengar hingga ke lorong-lorong kampung, makanan halal tersebar, atmosfer ramadhan sungguh terasa kental. Tapi disini, masjid sedikit, adzan tak akan pernah kita dengar, tak bisa memakan makanan sembarangan kecuali yang berlabel halal, dan puasa sekitar 19 jam. Namun, inilah tantangannya, ketika iman dan islam kita Allah uji, ketika kita mampu menegakkan keistiqamahan melalui hal-hal yang Allah perintahkan dan Allah larang. Seperti shalat.

Saat lagi travelling, saya tak menemukan masjid terdekat, maka pada saat itu saya pun shalat di taman. Orang-orang melihat? Tentu. Untuk yang rindu dengan suara adzan bisa datang lebih awal ke masjid. Untuk makanan halal, tak usah khawatir. Berdasarkan pengalaman saya, banyak sekali toko daging halal dan restoran halal dari Turki ataupun negara Timur tengah yang bisa ditemui. Alhamdulillah selama saya sudah pernah menginjakkan kaki di berbagai puluhan kota dan belasan negara di Eropa, mencari makanan halal tidaklah sulit asalkan mau berusaha. Pun, banyak sekali produk-produk vegan yang sangat aman dikonsumsi oleh muslim. Di Indonesia, orang-orang berpuasa selama 13 jam, tapi di Eropa sekitar 19 jam dan ketika musim panas, dimana siang menjadi sangat panjang. Hal yang luarbiasa adalah saya tidak menjadi lebih haus ataupun menjadi lebih lapar dibandingkan dengan berpuasa 13 jam. Semua terasa lebih nikmat.

Balik lagi, perlakuan baik dari warga non muslim dimulai dari diri kita sendiri. Maksudnya, dengan identitas muslim yangmana hijab sebagai “simbol” buktikan bahwa kita baik, kita taat aturan, kita ramah, dan kita bersih. Jadikan diri kita sebagai agen muslim yang baik dengan cara menebar kebaikan dimana pun berada.

Mungkin banyak kita lihat, muslimah-muslimah yang melepas identitasnya ketika berada di negara non muslim hanya dengan alasan karena takut dan khawatir akan diskriminasi dan rasisme. Tapi kita lihat juga banyak sekali muslimah yang mungkin pertama kali datang ke negara non islam, belum memakai kerudung, malahan ia menemukan jati dirinya sebagai muslimah di sini. Banyak juga yang semakin taat dan semakin meningkat ibadahnya kepada Allah ketika hidup di negara non Islam karena ia paham betul bahwa kepada Allah lah tempat segala perlindungan.

“Hijab adalah sebuah komitmen!”, Tantri Damar Prastuti

11
Hijab menurutku adalah sebuah komitmen. Komitmen untuk terus memperbaiki diri, bukan berarti kita udah ‘bener’. Tapi justru dengan kita berhijab, kita belajar gimana caranya jadi bener. Awalnya saya juga bongkar pasang. Maklum, saat itu masih dalam proses belajar, namun seiring bergulirnya waktu, akhirnya saya paham sendiri. Yang penting komitmen untuk terus lebih baik dari sebelumnya terus dijalankan.

Bukan hanya itu saja, hijab sebenernya juga merupakan prinsip. Prinsip untuk terus mem-filter apa-apa saja yang benar, dan apa saja yang salah. Beberapa waktu yang lalu saya pernah ditawari pekerjaan. Namun persyaratannya harus lepas hijab. Itu nggak lucu banget. Karena saya pakai hijab, seharusnya mereka bisa memahami, saya tidak akan lepas hijab apalagi untuk dikomersilkan. Hijab itu mahal, sebab butuh perjuangan untuk mempertahankannya. Perjuangan melawan diri sendiri dan lingkungan yang tidak mendukung. Kalau kita punya prinsip, kita tidak akan semudah itu menggadaikan hijab untuk sesuatu yang semu.

“Hijab identitas saya sebagai seorang Muslimah”, Harisya Qisthi Nandini

12
Hijab sebagai identitas saya, sebagai seorang Muslimah. Yang bisa membedakan saya dengan wanita yang lain. Buat saya hijab juga sebagai salah satu bentuk penjagaan Allah buat kita para wanita. Dengan berhijab saya merasa lebih terlindungi dari pandangan buruk orang lain, khususnya pria, dan juga dari penilaian orang lain akan fisik saya. Perlindungan yang lainnya adalah, untuk hati saya. Disaat misalnya saya hendak berbuat sesuatu yang kurang baik, sering saya “diingatkan” oleh hijab yang saya kenakan ini.

Tidak ada pengalaman yang menyulitkan saya hidup disini(Jerman) dengan berhijab. Alhamdulillah belum pernah merasakan diskriminasi atau sejenisnya, karena relatif orang disini menilai kita dari prestasi yang kita tunjukkan, bukan dari penampilan ataupun ras agama kita. Saya merasakan keuntungan berhijab disini misalnya saat saya mau membeli makanan. Sering orang lain langsung memberitahu saya kalau makanan/minuman tersebut mengandung babi atau alkohol, bahkan sebelum saya bertanya. Jadi hijab ini sudah otomatis memberitahu orang lain kalau saya seorang Muslimah, tanpa saya perlu menjelaskan. Berbeda mungkin dengan laki-laki yang jika hanya dari tampilan luar saja orang belum tentu langsung tau dia Muslim.

Kemudian kalau di kampus saya sering jadi tempat bertanyanya teman-teman kalau ada berita yang negatif tentang Islam, atau hanya sekedar mereka kepo ingin tahu sesuatu tentang Islam.

Lain lagi saat saya tinggal di Berlin sebagai kaum yang minoritas, adalah saya selalu merasa senang saat dijalan berpapasan dengan muslim dari negara lain, sering saya disenyumi, ditegur atau diucapkan salam. Dulu sebelum saya berhijab ga ada yang senyumin saya seperti itu, jelas mungkin karena mereka tidak tahu kalau saya Muslim juga. Dan karena kita minoritas, jadi rasa persaudaraan sesama Muslimnya sangat terasa disini, kita tidak dipandang lagi berasal dari negara mana.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY